Satu Opini Untuk Tuhan
Semilir
angin menerpa wajahku membuat berantakan tiap helai rambutku, terus-menerus aku
gerakkan pena kesayanganku mengisi tiap-tiap lembar kosong dengan imajinasiku.
Aku Cindy anak dari seorang petani di desa seberang, aku kini tinggal bersama
ayahku semenjak ibu meninggal dunia, hatiku merasa terpukul di kala aku tahu
ibu meninggalkanku, pergi untuk selama-lamanya bersama Tuhan. Kini aku hanya
dapat menuliskan keluh kesahku pada pena dan lembaran kertas kosong yang
nantinya akan ku sampaikan pada ibu melalui Tuhan.
“Cindy..
Cindy Bapak pergi ke sawah dulu ya kamu jaga rumah baik-baik Bapak akan pulang
nanti siang,”
“Baik Pak, Cindy akan jaga rumah, Bapak hati-hati ya,”
“Bapak pergi dulu ya Nak, assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Baik Pak, Cindy akan jaga rumah, Bapak hati-hati ya,”
“Bapak pergi dulu ya Nak, assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Bapak
terus mengayuh sepeda sekuat tenaga agar dapat mencapai sawah secepat mungkin,
tepat di hadapan bapak sedang berjalan mobil dengan kelajuan yang di atas
rata-rata, bapak hanya merasa ada firasat buruk yang akan menimpanya tapi bapak
tetap mengayuh sepedanya dengan hati-hati.
BRAAAAKK!!
Sepeda
bapak terpelanting dan hanya menyisahkan bapak yang penuh luka dan darah, tepat
seperti dugaan bapak, bapak kecelakaan, mobil dengan kelajuan di atas rata-rata
tadi menabrak bapak. Segera dengan cepat aku berlari menghampiri bapak dan meminta
bantuan agar orang-orang membawa bapak ke rumah sakit. Di rumah sakit aku terus
memanjatkan doa agar tak terjadi sesuatu terhadap bapak, tapi dugaanku salah
setelah dokter selesai memeriksa bapak dokter keluar dan langsung berkata
padaku, “Nak, ikhlaskanlah segalanya mungkin inilah takdir tuhan, Tuhan telah
memanggil Bapakmu dan menjemput Bapakmu untuk ikut ke surga bersamanya.”
Kini
aku hanyalah seorang diri ditinggal bapak dan juga ibu, harus bagaimana lagi
aku memanjatkan doa pada Tuhan? agar dia selalu dapat menjaga keluarga kami
tanpa harus mencelakakannya. Saat ini lembaran baru itu terbuka, lembaran penuh
kehampaan dan kesunyian. Kertas itu kembali ku buka ku tulis lagi dengan pena
kesayanganku. Tuhan saat ini kau telah mengambil semua dariku bapak dan juga
ibu, besok siapa lagi yang akan kau ambil? Apa aku?
Ya
Tuhan ambil sajalah aku untuk menggantikan bapak dan juga ibu tapi jangan ambil
mereka karena aku teramat sayang pada mereka. Di atas sajadah aku bersimpuh
memohon Tuhan ambil nyawaku, tak akan aku menyesali semuanya jika Tuhan tak
mengambil segalanya. Yang ada di benakku saat ini Tuhan itu tidak ADIL!
merampas semua kebahagiaanku dan menggantikannya menjadi air mata tak dapat aku
bayangkan jika aku harus merobek jantungku yang penuh rasa dengki pada takdir
sang ILAHI RABBI.
Cerpen
Karangan: Syafitri Ayuni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar